Makanan Bayi Tak Perlu Ada Garam

Written By Mekhels Linxets on Tuesday, November 27, 2012 | 9:48 PM

Makanan Bayi - Hasil penelitian di Jerman menunjukkan bahwa makanan bayi tak perlu dibubuhi garam. Mengapa? Rasa ingin tahu Anda terjawab di sini.

Bolehkah menambahkan garam pada bubur bayi? Jangan! Karena, reaksi bayi terhadap garam sangat sensitif. Begitu dia menerima garam dari makanannya, tekanan darahnya akan melonjak tinggi. Hal ini dapat berdampak jangka panjang. Di satu tahun pertama, usahakan makanan yang diberikan pada bayi tidak diberikan garam sama sekali. Dalam ASI, sayuran, kacang-kacangan dan daging sebenarnya sudah terdapat kandungan garam alami yang mencukupi kebutuhan bayi. 

Jadi, haruskah makanan bayi hambar? Kitalah yang merasakan bubur bayi hambar, karena selera makan kita sudah terbiasa dengan rasa asin. Sementara pada bayi, langit-langit mulutnya belum berkembang sempurna dan dia belum memiliki preferensi rasa asin! Jadi, makanan yang kita anggap hambar, untuk bayi enak-enak saja. 

Apakah ginjal bayi belum dapat memproses garam? Ya, ginjal bayi belum dapat memproses garam dalam jumlah tinggi. Bayi memiliki sistem pencernaan yang masih sangat rapuh, dan ginjal adalah salah satu organ bayi yang paling rapuh. Terlalu banyak garam dari sumber selain makanan alami seperti ASI, susu formula, sayur dan buah-buahan, dapat merusak ginjal bayi, bahkan dapat menyebabkan kerusakan otak.

Apa yang terjadi pada garam di ginjal? Setelah tubuh mengambil sari-sari makanan yang dibutuhkan dari makanan yang dikonsumsi, sisanya akan dibawa darah menuju ginjal. Jika ginjal tidak membuang sisa sari makanan tersebut, maka akan menumpuk dan merusak tubuh. Tugas ginjal adalah memastikan zat-zat seperti natrium (salah satu unsur garam), fosfor dan kalium dilepaskan ke darah untuk diedarkan kembali dalam tubuh. Dengan cara inilah ginjal menjaga keseimbangan zat-zat tersebut. 

Jadi, kapan makanan anak boleh diberi garam? Kebutuhan garam bagi anak usia 6-12 bulan hanya 1 gram per hari dengan kandungan natrium 0,4 gram. Jumlah ini sudah terpenuhi dari ASI dan makanan pendamping ASI. Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kebutuhan garam sedikit lebih banyak: usia 1-3 tahun butuh sampai 2 gram per hari (mengandung natrium 0,8 gram). Di usia ini Anda dapat manambahkan garam maksimal ¼ sendok teh garam dapur sehari. 

Bagaimana dengan keju, margarin dan mentega sebagai penambah rasa? Keju, margarin dan mentega (butter) memiliki rasa yang dapat membangkitkan selera makan anak. Mengingat anak yang lebih besar yang sudah dapat mentolelir lebih banyak garam, maka akan lebih baik bila keju, margarin dan mentega diberikan pada anak yang sudah siap menerima produk ini, yaitu usia 8 bulan. Carilah keju, margarin dan mentega yang rendah natrium dengan memeriksa label kemasan. Biasanya, dengan keterangan unsalted pada kemasannya.

Lalu, bagaimana dengan kebutuhan kolesterol untuk tumbuh kembang otak bayi usia 6-8 bulan yang belum boleh mengonsumsi margarin dan mentega? Kebutuhan tersebut bisa diperoleh dari ASI yang memenuhi 80% kebutuhan bayi. Bila Anda akan menambahkan kolesterol “baik” (High Density Lipoprotein –HDL) pada bubur bayi, bisa dengan minyak extra virgin olive oil. Tambahkan setelah makanan bayi matang dan dalam kondisi hangat.

Apakah bayi mau makan makanan dengan tambahan rempah dan bawang putih? Bayi adalah kosumen makanan yang pasif. Artinya, dia akan menerima makanan apa pun yang kita hidangkan untuknya. Namun, perlakukan tambahan “perasa alami” berupa rempah-rempah dan bawang putih seperti makanan baru bagi bayi Anda. Berikan tambahan satu per satu setidaknya selama empat hari, untuk membantu Anda mengidentifikasi dan menghindari bayi alergi pada makanan tambahan alami ini.
Sumber http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Terbaru/Terbaru/makanan.bayi.tak.perlu.garam/001/001/2008/3