Potret Seorang Ayah

Written By Mekhels Linxets on Monday, November 26, 2012 | 6:00 PM

Potret - Bagi seseorang yang sudah dewasa dan sedang jauh dari orang tua, mungkin akan lebih sering merasa rindu kepada Ibunya.

Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena Ibu lebih dekat denganmu, mungkin karena Ibu lebih sering nelpon untuk menanyakan keadaanmu.

Tapi tahukah kamu, jika ternyata ayahlah yang mengingatkan Ibu untuk meneleponmu? Menghubungimu?

Saat kecil, Ibulah yang lebih sering mendongeng.Tapi tahukah kamu bahwa sepulang ayah bekerja dengan wajah lelah beliau selalu menanyakan pada Ibu, apa yang kamu lakukan seharian.

Saat kmu sakit batuk / pilek, ayah kadang membentak : "Sudah dibilang jangan minum es!" Tapi tahukah kamu apa maksudnya? Tiada lain bahwa ayah mengkhawatirkan kesehatanmu?

Ketika kamu remaja, kamu menuntut untuk mendapat izin keluar malam.
Ayah dengan tegas berkata "tidak boleh!" Sadarkah kamu bahwa ayahmu hanya ingin menjagamu?

Karena bagi ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat kamu bisa lebih dipercaya, Ayah pun melonggarkan peraturannya. Kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan ayah adalah menunggu di ruang tamu dengan sangat khawatir.

Ketika kamu dewasa dan harus kuliah di kota lain. Ayah harus rela mlepasmu. Tahukah kamu bahwa badan ayah terasa kaku untuk memelukmu?

Dan ayah sangat ingin menangis. Di saat kamu memerlukan ini dan itu, untuk keperluan sekolahmu, ayah hanya mengernyitkan dahi. Tapi tanpa menolak, beliau memenuhinya.

Ayah sangat menyayangimu, tetapi seorang ayah sulit mengungkapkan dalam perbuatan dan perkataan lembut seperti ibu..

Sampai ketika teman pasanganmu datang untuk meminta izin mengambilmu dari ayah. Ayah akan sangat berhati-hati dalam memberi izin.

Dan akhirnya..
Saat ayah melihatmu duduk di pelaminan brsama seseorang yang dianggapnya pantas menjadi pendamping hidupmu, Ayahpun trsenyum bahagia.

Apa kamu tahu, bahwa ayah pergi ke belakang dan menangis?

Ayahmu menangis bukan karena bersedih. Akan tetapi karena ayah sangat bahagia melihat kebahagiaanmu.

"Semoga Putra/i kecilku yang manis akan berbahagia bersama pasangan hidupnya nanti." Begitulah doa dalam hatinya.

Setelah itu ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk dengan rambut yang telah memutih dan badan yang sudah tak lagi merasa kuat untuk selalu menjagamu.

Itulah potret Ayahmu yang sebenarnya.
Maka berusahalah untuk tidak sekali-kali mengabaikan kasih sayang seorang Ayah.